Budaya pakai ulang menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan lingkungan, khususnya sampah, sebagai bagian dari kampanye 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sudah umum diterapkan di berbagai negara. Reuse sendiri bisa mencakup banyak cara, mulai dari aktivitas tukar barang secara informal, hingga level industrial yang menggunakan kembali komponen-komponen khusus dalam proses manufakturing.
Dalam pembahasan kali ini, KOMIt ingin membahas mengenai aktivitas dan upaya reuse dalam konteks personal.
Budaya Kenyamanan Produk Sekali Pakai
Akar dari sulitnya menggeser budaya pakai ulang (reuse) tidaklah semata disebabkan karena kurangnya kesadaran lingkungan, melainkan bagaimana masyarakat modern telah dikondisikan oleh ekosistem yang mengutamakan kenyamanan instan (convenience culture). Produk sekali pakai menawarkan efisiensi sebagai daya jual utama.
Dengan tingginya mobilitas masyarakat modern kini, kemudahan produk sekali pakai dipandang sebagai sebuah kebutuhan dengan penghematan waktu dan tenaga. Sebagai contoh, dengan banyaknya convenience store di berbagai sudut kota secara tidak langsung mempromosikan kecepatan, efisiensi, dan kemudahan dalam konsumsi berbagai produk dengan kemasan sekali pakai. Sebagai contoh, jika dibandingkan dengan harus memasak dan mempersiapkan bekal makan siang, misalnya, akan lebih mudah untuk membeli makanan.
Oleh karena itu, pilihan pribadi yang dibuat untuk membeli makanan di luar menjadi bagian dari tantangan sistemik. Saat ini desain sistem yang ada mendukung dan mendorong pilihan tersebut. Sebagai contoh, tren membawa botol minum sendiri sudah cukup banyak digaungkan oleh berbagai pihak. Akan tetapi, ketika ruang publik belum mendukung fasilitas refill, maka pilihan akan kembali ke pembelian air dalam kemasan.
Tren
Faktor kedua yang mempersulit adopsi budaya pakai ulang adalah arus tren yang memicu pembelian produk. Terlebih dengan adanya konsep Fear of Missing Out (FOMO) di era digital yang memudahkan akses informasi secara cepat dan real-time, banyak konsumen yang kemudian melakukan pembelian berbagai produk bukan karena kebutuhan melainkan karena keinginan untuk mengikuti tren. Sebagai contoh, dalam bidang fashion, terus terjadi pergantian yang dinamis mengenai jenis mode - terlebih bagi brand-brand fast fashion. Menyebabkan pembelian pakaian bukan atas kebutuhan melainkan karena keinginan untuk mengikuti tren.
Ironisnya, tren juga merambah ke komoditi dengan label ramah lingkungan. Sebagai contoh, penggunaan botol minum memang menekan jumlah pembelian air dalam kemasan. Akan tetapi, esensi reuse sendiri menjadi terabaikan karena pembelian botol minum dilakukan atas keinginan mengikuti tren. Produk yang dibeli pun berpotensi menjadi timpukan sampah baru.
Pertimbangan Biaya/Keterjangkauan
Karena produk-produk yang didesain untuk dapat dipakai ulang seringkali membutuhkan investasi pengeluaran awal yang lebih tinggi, hal ini tentu juga menjadi pertimbangan meskipun dalam jangka panjang perhitungan biaya akan lebih hemat. Misalnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah dengan pendapatan harian, akan lebih sulit mengeluarkan biaya besar di awal jika dibandingkan membeli produk sekali pakai yang murah dan merupakan pilihan paling rasional dalam jangka pendek.
Sebagai contoh, salah satu produk yang pasti dibutuhkan oleh perempuan adalah pembalut. Saat ini di pasaran masih didominasi oleh pembali sekali pakai, yang artinya akan membuat pengeluaran konstan setiap bulannya. Padahal juga tersedia pembalut pakai ulang, akan tetapi karena kualitas pakai ulangnya menjadikan harga lebih tinggi membuat orang masih enggan untuk berganti ke produk pakai ulang. Dalam post selanjutnya akan dibahas lebih lanjut mengapa perempuan perlu berganti ke produk pakai ulang.