Data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Indonesia berada di angka 4,47% atau setara dengan 7,46 juta orang, dengan proporsi Generasi Z (rentang usia 15-24 tahun) mencapai 16,26%, persentase tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Tantangan Mendapatkan Pekerjaan Pasca Kelulusan
Meskipun sekitar 45% individu usia kuliah telah terdaftar di pendidikan tinggi dan memiliki gelar S1, hal ini tidak lagi menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan. Banyak lulusan masih menghadapi kesulitan dalam menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka.
Beberapa faktor penyebab yang menjadi tantangan besar adalah adanya skill gap antara kompetensi lulusan dan kebutuhan di lapangan kerja modern. Dinamika pasar yang cepat, penyesuaian kurikulum yang cenderung administratif, dan keterbatasan penggantian sarana dan prasarana di sekolah menjadi beberapa alasan mengapa lulusan muda memiliki skill yang outdated atau yang tidak sesuai dengan yang dicari industri masa kini.
Terlebih bagi lulusan sekolah menengah (SMA/SMK) dari kelompok marjinal. Mereka menghadapi pasar tenaga kerja yang jauh lebih kompetitif tanpa memiliki kapasitas finansial untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Kondisi ini memperdalam ketidaksetaraan akses terhadap peluang kerja dan menegaskan perlunya intervensi kebijakan yang berfokus pada peningkatan keterampilan vokasional, dukungan finansial, serta penguatan sistem transisi dari pendidikan menengah ke dunia kerja. Di sisi lain, mereka juga kekurangan akses ke kegiatan dan pembelajaran yang bisa mengasah soft skill dan akses informasi lowongan kerja.
Persiapan Anak Mudah Memasuki Persaingan Dunia Kerja
Sesuai dengan fokus kami di Yayasan Lentera Komitmen Indonesia yang percaya bahwa pemberdayaan kelompok marginal menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, kami memiliki program internal yang berfokus pada pembangunan skill anak muda untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Youth Employment Preparation Programme/Program Persiapan Kerja untuk Pemuda ini kami susun untuk menjawab tantangan, melalui kegiatan pelatihan yang kami sasarkan untuk siswa-siswi SMK yang akan lulus.
Menjelang masa kelulusan jenjang sekolah menengah atas, selama 1 bulan dari pertengahan April hingga Mei tim KOMIt Foundation aktif melakukan pelatihan di SMK di Surabaya. Rangkaian kegiatan pelatihan ini difokuskan bagi siswa-siswi lulusan yang akan mempersiapkan diri mereka memasuki dunia kerja.
Senjata Utama Aplikasi Kerja: Pengembangan Dua Sisi Strategis
Dalam sesi komprehensif yang kami berikan, materi fokus pada pembangunan ‘modal sosial’ di mana peserta diajak untuk bisa memahami pasar kerja saat ini yang sangat dinamis. Selain itu bagaimana agar peserta dapat mempersiapkan diri memasuki pasar kerja saat ini, khususnya dengan persiapan teknis untuk penyusunan CV dan cover letter. Persiapan dokumen seperti ini memang terdengar sepele, namun banyak siswa-siswi dari kelompok marginal tidak memiliki pengalaman dan mentor dalam mempersiapkannya.
Selain mempersiapkan dokumen sebagai tahap awal pelaksanaan, tahap kedua yang penting dalam proses seleksi kerja adalah: wawancara. Dalam sesi pelatihan, sesi dibuat seinteraktif mungkin agar peserta dapat berlatih simulasi wawancara sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan umum yang ditanyakan saat seleksi.
Hingga saat ini, kami telah menjangkau hampir 400 kaum muda dari kelompok marjinal dalam pelatihan persiapan kerja ini. Tak hanya itu, kami juga membuka jalur komunikasi dengan seluruh peserta yang ingin melakukan konsultasi atau mentorship individual terkait persiapan kerja. Harapannya, kami akan terus menjalankan program ini untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif untuk semua kelompok.